Kamis, 26 Maret 2015
Softskill Psikoterapi
Khusnul Khotimah
14512099 _ 3pa11
Konsep psikoanalisis : (wade,
travis.2008) freud (1856-1939) ,
seorang neurolog yang tidak dikenal mendengarkan laporan pasienya mengenai
depresi kecemasan dan sejumlah kebiasaan obsesif didalam ruang kerjanya. Freud
menjadi yakin bahwa banyak gejala pasienya yang diakibatkan oleh penyebab
mental dan bukan penyebab fisik, freud berkesimpulan bahwa penderitaan distress
yang mereka alami terkait dengan konflik serta trauma emosional yang terjadi
dimasa anak anak dan hal itu terlalu menakutkan untuk diingat secara sadar. Pendekatan psikoanalisa yaitu
dengan cara pasien berbagi pikiran hasrat dan konflik yang tidak disadari.
Untuk itu diperlukan teknik-teknik dasar psikoanalisis yaitu : Asosiasi bebas,
penafsian, analisis mimpi, resistensi, dan transferensi Corey (dalam Riyanti, Prabowo, 1998).
Prespektif belajar : (wade,
travis. 2008) Menelaah cara lingkungan dan pengalaman mempengaruhi tindakan
seseorang atau organisasai lain mereka yakin bahwa peroses belajar seseorang
tidak hanya dicapai melalui adaptasi
perilaku agar sesuai dengan lingkungan, namun juga peroses peniruan perilaku
orang lain dan dengan memikirkan
berbagai peristiwa yang berlangsung disekitar lingkungan mereka. dalam
mekanisme dan pendekatan ilmiah yang diimplikasikan pada pendekatan secara
sistematis dan terstruktur dalam proses konseling. Dalam konsep behavior,
perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi
dan mengkreasikan kondisi belajar. Manusia tidak diasumsikan secara
deterministik tetapi merupakan hasil dari pengkondisian sosio kultural. Trend baru
dalam behaviorisme adalah diberinya peluang kebebasan dan menambah keterampilan
konseling untuk memiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon. Sanyata
(2012) Pada tahun 1950an banyak eksperimen yang dilakukan oleh psikolog dan
terapis dalam upaya pengembangan potensi manusia, Salah satu temuan baru yang
didapatkan adalah menganggap pentingnya faktor belajar pada manusia, di mana
untuk memperoleh hasil belajar yang optimal diperlukan reinforcement sehingga
teori ini menekankan pada dua hal dua hal penting yaitu learning dan
reinforcement serta tercapainya suatu perubahan perilaku (behavior). Dalam
perkembangan lebih lanjut teori ini dikenal dengan behavior therapy dalam
kelompok paham behaviorisme, yang dikembangkan melalui penelitian
eksperimental.
Prespektif humanistik (terapi
eksistensial/humanistik) : dasar dari
terapi humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan
perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya.
Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba
menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian
pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri,
salah satu terapi yang terkenal adalah terapi
yang berpusat pada klien atau Client-Centered Therapy , Dalam terapi
yang dikembangkan Carl rogers tersebut ugas terapis adalah mempermudah peroses
pemecahan masalah mereka sendiri , terapis juga tidak mengajukan pertanyaan
menyelidik , membuat penafsiran dan mengajukan serangkaian tindakan Atkinson dkk.,
(dalam Riyanti, Prabowo, 1998).
Pendekatan psikologi kognitif :
yaitu menekankan pada hal yang berlangsung dipikiran seseorang, bagaimana
seseorang berfikir, mengingat, memahami bahasa, memecahkan maslaah, menjelaskan
berbagai penglaman, memperoleh sejumlah standar moral, dan membentuk keyakinan
.Terapi kognitif perilaku, terapi kognitif perilaku merupakan suau gabungan
antara terapi kognitif dengan terapi perilaku,terapi ini menganggap
kesulitan-kesulitan emosional berasal dari pikiran atau keyakinan yang salah (kognisi) yang menyebabkan
perilaku yang tidak produktif. kondisi psikiatik membaik apabila cara berpikir
pasien menjadi lebih akurat dan apabila
perilaku individu menjadi lebih tepat
(tomb, 2004)
Kasus
Kasus dalam psikodinamika, Hampir
sebagian besar wanita korban perkosaan mengalami gangguan stress pasca-trauma.
Kesan peristiwa perkosaan itu menyelubungi mereka dengan perasaan rentan,
ketakutan karna hidup dalam dunia yang berbahaya, dan kehilangan kontrol dalam
kehidupan mereka. Mereka selalu berfikir kembali tentang trauma itu dan ini
mewarna perilaku sehari-hari maupun tindakan tindakan yang akan datang. Banyak
dari korban ini merasa hidupnya telah gagal sama sekali dan tidak mampu
melakukan pekerjaan sehari-hari. Mereka takut diinggal sendirian dirumah dan
selalu merasa diikiti oleh seseorang. Mimpi-mimpi buruk sering timbul berulang,
gangguan nafsu makan dan banyak keluhan keluhan somatik seperti nyeri kepala,
mual-mual, mudah lelah, sering tegang, dan lain-lain.
Kasus yang dapat ditangani
dengan pendekatan behaviouristik seperti
penyimpangan tingkah laku, tingkah laku yang termasuk abnormal, baik yang
tergolong neurotik, psikotik ataupun tingkah laku manusia yang tergolong
normal. Penyimpangan tingkah laku dapat berbentuk ngompol, gagap, pobia, obsesi
dan kompulasi, histeria, tiks, psikopat, kriminalitas, ketimpangan sosial,
psikosa alcoholism, dan mental deficiency pada manusia yang tergolong normal.
Kasus yang dapat ditangani
dengan pendekatan humanistik gangguan-gangguan dalam komunikasi-komunikasi
keluarga membuat anggota keluarga tertentu terpaksa malaksanakan
tuntutan-tuntutan yang bertentangan dengan orang lain dan kehendak dirinya,
yang menyebabkan timbulnya reaksi-reaksi tertentu, penolakan menjadi style, dan
orang tidak menyadari ketidaksesuaian dalam dirinya maka kecemasan dan ancaman
muncul akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian tersebut.
Kasus yang dapat ditangani
dengan pendekatan kognitif seperti
kecemasan berbicara di depan umum, mengalami kecemasan tinggi saat
diminta berbicara di depan umum, Kecemasan berbicara di depan umum adalah suatu
hal yang normal, bahkan dapat dikatakan sehat apabila kecemasan tersebut mendorong
seseorang untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengantisipasi apa yang
ditakutkannya, namun kecemasan yang terlalu tinggi pada saat berbicara di depan
umum akan menghambat seseorang untuk menunjukkan kapasitas dirinya, faktor
penyebab kecemasan bersumber pada proses kognitif dan perilaku pembicara.
Alasan
Mengapa kasus tersebut dapat di
tangani oleh psikodinamik : Karena kunci pengobatan dengan psikodinamika rasa
bersalah yang ad apada individu-individu yang selamat tersebut. Difokuskan
karna adanya perasaan dikejar-kejar , adanya mimpi buruk yang berulang-ulang
karna inti dari pengalaman tarumatik tersebut direpres secara total maka
dibutuhkan teknik psikoterapi psikodinamika agar dilakukanya asosiasi bebas,
analisis mimpi.
Kasus Behavioural dapat
ditangani dengan pendekatan behaviouristik, Pendekatan behavioristik cenderung
bersifat direktif dan memberi arahan kepada klien. Konselor memilliki posisi
aktif untuk membantu klien mengubah perilakunya, Behavioristik merupakan salah
satu pendekatan teoritis dan praktis mengenai model pengubahan perilaku konseli
dalam proses konseling dan psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang memiliki
ciri khas pada makna belajar, conditioning yang dirangkai dengan reinforcement
menjadi pola efektif dalam mengubah perilaku.
Dapat ditangani dengan
humanistik karena eksistensialisme menekankan pada anggapan bahwa manusia
memiliki kebebasan dan tanggung jawab bagi tindaka -tindakannya, maka
eksistensialisme menarik para ahli psikologi humanistik. Para ahli psikologi
humanistik menekankan bahwa individu adalah penentuan bagitingkah laku dan
pengalamanya sendiri. Manusia adalah agen yang sadar, bebas memilih atau
menentukan setiap tindakannya. karena pengaruh eksisistensialisme mengambil
model dasar manusia sebagai mahkluk yangbebas dan bertanggung jawab Dapat
tangani dengan pendekatan humanistik dikarnakan kecemasan sebagai keadaan
ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya tidak diketahui
Mengapa dapat ditangani dengan
pendekatan kognitif ? Komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting dan tidak
mungkin dihindari dalam kehidupan manusia sebagai mahluk sosial. Di dalam
Pendekatan Perilaku Kognitif, komponen kognitif ditujukan untuk mengubah
pikiran-pikiran salah yang menjadi penyebab masalah, jika seseorang mempunyai
pikiran yang negatif tentang situasi berbicara di depan umum, maka pikiran
negatif tersebut akan mempengaruhi perasaan dan perilakunya sehubungan dengan
situasi tersebut. Pikiran negatif tentang situasi berbicara di depan umum akan
menimbulkan perasaan takut atau cemas, yang kemudian akan berimbas pada
perilaku.
Dapus:
Riyanti,dwi,B.P., dan
Prabowo,Hendro. 1998. Psikologi Umum 2. Jakarta: Gunadarma
Sanyata, S. 2012. Teori dan
Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling. Jurnal Paradigma. No 14.
Tomb,A.David., 2004. PSIKIATRI.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Wade,C., dan Travis,C. 2008.
Psikologi edisi kesembilan
Sabtu, 21 Februari 2015
Ketika akhwat merasakan cinta...
Yang mereka rasakan adalah malu , malu pada rabb nya...
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bersemaya, dalam alam fikirnya, yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak semestinya
Ketika rasa rindu mulai membuncah mereka hanya merasa perih bukan senyum bahagia seperti wanita wanita lain yg sedang di landa cinta, tak ada rona malu dan bayang bayang bersama dia..
Yang ada adalah malam-malam yang di penuhi tangis karena ini bukan cinta yg seperti mereka harapkan
Yang ada adalah malu dan takut pada rabb nya , dan hijab panjang mereka
Yang ada adalah penderitaan luka dihati yang mulai menyayat
Saat akhwat merasakan cinta...
bukan syair cinta, dan rayuan pujian... Yang ada adalah gelisah dan ketakutan akan cinta yg dihiasi dosa dikarnakan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya...
Ketika mereka merasakan cinta, maka perhatikanlah,kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberi ketenangan di wajahnya yang dulu teduh...Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya...walaupun mereka sakit.
Ukhti.. tak perlu takut kau akan kehilangan cintanya... Karena bila memang kalian di takdirkan bersama, maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu.. pemilik tulang rusuk tak pernah tertuka.
Minggu, 11 Januari 2015
Nama : Khusnul Khotimah
kelas : 3pa11
NPM : 14512099
kelas : 3pa11
NPM : 14512099
1. Dalam interaksi dan interelasi
sosial antar individu atau antar kelompok, konflik sebenarnya merupakan hal
alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar
dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar
yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara
mengelolanya.
Aspek
positif konflik
· Membantu setiap
orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
· Memberikan
saluran baru untuk komunikasi.
· Menumbuhkan
semangat baru pada staf.
· Memberikan
kesempatan untuk menyalurkan emosi.
· Menghasilkan
distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.
Dalam padangan modern ini konflik sebenarnya dapat memberikan manfaat yang
banyak bagi organisasi. Sebagai contoh pengembangan konflik yang positif dapat
digunakan sebagai ajang adu pendapat, sehingga organisasi bisa memperoleh
pendapat-pendapat yang sudah tersaring.
Kadang konflik pun terjadi. Apakah itu menjadi persoalan bagi dirinya ? hal
itu menjadi hal yang positif, karena dapat melihat kebijakan yang dibuat tersebut
dari sisi lain. Mampu mengidentifikasi
kemungkinan kelemahan yang ada dari situ. Selama kita masih bisa mentolerir dan
dapat mengendalikan konflik tersebut ke arah yang baik, hal itu tidak menjadi
masalah konflik tidak selalu merugikan organisasi
selama bisa ditangani dengan baik. :
Contoh kasus
konflik pada perusahaan :
Baskoro (2014) Mekanisme Konflik Industri dalam Hubungan Buruh
dan Pengusaha di Perusahaan
“X” . Konflik disebabkan oleh kontrol yang dilakukan oleh pihak perusahaan
(pengusaha beserta manajemen) terhadap buruh yang dinilai terlalu memberatkan
buruh. konflik terbentuk dari keterkaitan
unsur yang muncul akibat distribusi wewenang dan kekuasaan. Implikasi tersebut
menjadikan beberapa unsur saling terkait dan bekerja semenjak prakonflik hingga
pasca konflik.
Diketahui bahwa Perusahaan “X” telah mengalami
konflik semenjak diberlakukannya manajemen baru pada tahun 2000. Pemilik
perusahaan telah melibatkan pihak lain untuk melakukan kontrol korektif
terhadap kinerja buruh. Di samping itu terdapat penyebab lain yang menjadikan
konflik semakin memanas ialah kebijakan upah buruh yang diberikan memiliki nominal
yang relatif kecil bagi buruh. Minimnya upah yang diterima disebabkan oleh
minimnya kuantitas pekerjaan dan harga untuk setiap pekerjaan yang diberikan
oleh buruh, sehingga buruh tidak hanya menerima pekerjaan yang sedikit tetapi
juga menerima harga dari pekerjaan yang relatif murah.
Konflik terlihat lebih konkrit yang ditandai
dengan aksi buruh melakukan demontrasi di depan perusahaan pada tanggal 13
Februari 2013. Demontrasi yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan buruh
terhadap perilaku perusahaan yang dianggap merugikan buruh. Perilaku yang dilakukan
oleh perusahaan ditandai dengan adanya kontrol yang dilakukan oleh pemilik perusahaan
maupun manajemen terhadap buruh.
Awalmula kondisi konflik ditandai dengan tidak
adanya kenaikan harga yang dianggap selalu ada setiap tahunnya. Namun kondisi
hubungan semakin memburuk semenjak hadirnya pihak lain sebagai personalia dan
mendampingi Kepala Bagian Keuangan di perusahaan. Kondisi hubungan yang semakin
memburuk ditandai dengan berkurangnya order yang diterima perusahaan sehingga
mempengaruhi upah yang diterima buruh. Selain itu, buruh merasa mereka tidak
diperhatikan oleh pihak perusahaan karena pihak yang dipercaya maupun pemilik perusahaan
tidak lagi mendengar aspirasi atau keluh kesah buruh selama bekerja. Menanggapi
berbagai kondisi sulit yang dialami, buruh memutuskan untuk mengikuti organisasi
buruh yang bernama SBSI. SBSI merupakan satu-satunya serikat buruh yang berdiri
di Perusahaan “X” dan memiliki anggota sebanyak 46 buruh. Seluruh anggota SBSI
di Perusahaan “X” merupakan buruh produksi konveksi namun mengalami PHK setelah
melakukan aksi pada tanggal 13 Februari 2013.
Penyelesaian
konflik : Konflik yang melibatkan antara buruh dengan pengusaha beserta
manajemen perusahaan telah diakhiri dengan bentuk negosiasi atau perundingan
bipartit. Perundingan dilakukan antara buruh dengan pihak perusahaan yang
diwakilkan oleh cucu dari pemilik perusahaan. Perundingan dilakukan pada saat
pasca perundingan tripartit , penyelesaian konflik dilakukan dengan perundingan
secara bipartit. Secara sosiologis perundingan bipartit merupakan karakteristik
dari Compromise Nuri Rachma (Dalam Baskoro,2014) Compromise adalah salah satu
bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi
tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian konflik. Pada kasus ini mekanisme
yang telah dilakukan berlangsung efektif dalam penyelesaian konflik karena
masing-masing pihak saling merasakan dan memahami keadaan pihak lain. Faktor
tersebut dapat bersifat kontekstual, dalam arti pada kondisi tertentu
masingmasing pihak menginginkan hubungan konflik cepat diakhiri karena terdapat
kepentingan di luar hubungan konflik itu sendiri.
2.
Untuk
dapat mengatasi konflik-konflik yang ada pemimpin dapat memberikan kesempatan
kepada semua anggota kelompok untuk mengemukakan pendapatnya tentang kondisi -
kondisi penting yang diinginkan, yang menurut persepsi masing - masing harus
dipenuhi dengan pemanfaatan berbagai sumber daya dan dana yang tersedia
Kewenangan pimpinan sebagai sumber kekuatan
kelompok. Seorang manajer yang bertugas memimpin suatu kelompok, untuk
mengambil suatu keputusan, atau memecahkan masalah secara efektif, perlu
memiliki kemahiran menggunakan kekuaasaan dan kewenangan yang melekat pada
perannya. pengendalian konflik merupakan salah satu tugas pemim[in dalam
kepemimpinannya. Efektifitas kepemimpinan sesorang dapat dinilai dan bagaimana
ia mampu mengendalikan dan mengelola konflik .
Beberapa
keluhan karyawan yang terbaca oleh media salah satunya terlihat pada kasus yang terjadi pada 30 Januari 2008,
karyawan PT. X melakukan aksi mogok
kerja besar-besaran menolak hasil keputusan RUPSLB PLN 8 Januari 2008, di mana PT. X disiapkan
sebagai BUMN tersendiri, terpisah dari
PT. B . Pemisahan PT. X dari PT. B mengakibatkan perusahaan harus
melakukan persiapan dan restrukturisasi
perusahaan Sigit, G.M dan Trijaya (
Dalam Anditasari, 2010) Berdasarkan hasil wawancara dengan Supervisor Senior
sub divisi Sumber
Daya
Manusia, PT. X dituntut oleh kantor
pusat untuk melakukan banyak perubahan untuk meningkatkan produksi tenaga listrik agar mampu mengimbangi produksi
tenaga listrik Unit Bisnis Pembangkitan
lainnya. Perubahan yang sedang dilakukan oleh perusahaan juga merupakan salah
satu proses untuk menjadi BUMN sendiri terpisah dari PT.B Lebih lanjut, proses perubahan ini menyebabkan
volume pekerjaan meningkat, karyawan
menjalankan pekerjaan tidak sesuai dengan tugas pokok yang sudah ada tetapi berdasarkan perintah
yang telah ditetapkan oleh atasan dan bersifat tidak tetap.
Banyak
karyawan yang mengeluhkan adanya ketegangan dalam diri mereka saat beban
yangterlalu berat dan tuntutan kerja dai
perusahaan yang dirasakan terlalau tinggi
bagi karyawan hal ino merupakan adanya indikasi dari konflik peran yang
dialami karyawan
Berdasarkan
hasil wawancara dengan Supervisor Senior
sub Divisi Sumber Daya Manusia,cara menghindari dan mengatasi konflik tersebut
adalah karyawan yang menduduki tingkat jabatan staf senior mendapatkan
kompensasi berupa gaji pokok, tunjangan kesehatan
untuk suami, istri, dan anak, rumah dinas yang letaknya berada dalam satu komplek dengan perusahaan, serta
tunjangan-tunjangan lain. Tingginya
kompensasi
yang diterima karyawan akan meningkatkan semangat kerja karyawan tersebut. Faktor kepemimpinan
dinilai mempunyai pengaruh yang sangat kuat
terhadap semangat kerja karyawan Kossen (Dalam Anditasari, 2010). Hal
tersebut diperkuat dengan hasil
penelitian Sutanto dan Budhi (Dalam Anditasari, 2010) mengenai pengaruh
gaya kepemimpinan dengan semangat kerja
di Toserba Sinar Mas Sidoarjo, yang menghasilkan
adanya pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan yang berakibat pada menurunnya semangat kerja
karyawan.
3.
berjuta-juta
orang menganggur, puluhan juta orang berada dibawah garis kemiskinan, dan berbagai
macam masalah melingkupi kehidupan perekonomian rakyat. Kondisi inilah yang
membuat rakyat Indonesia, khususnya tenaga kerjanya, rentan diperlakukan secara
tidak manusiawi (dehumanusasi).
Dalam kondisi seseorang atau sekelompok orang
sedang dalam kehidupan serba sulit, khususnya mengalami ketidakberdayaan
ekonomi (economical empowerless), maka tawaran pola kerja yang bersifat
menyesatkan atau menjerumuskan dan merugikan hak-hak kemanusiaanya dapat
menimpanya. Unsur keterpaksaan atau kesulitan ekonomi bisa membuatnya
dihadapkan pada pilihan kerja yang tidak memartabatkan dan
mendehumanisasikannya.
kasus
perlakuan buruk itu adalah seperti yang menimpa sebanyak 30-an buruh. Sebagian
besar buruh atau pekerja ini berasal dari Lampung dan Cianjur (Jabar). Mereka
dipaksa kerja tanpa mendapat gaji, makan, dan hidup layak. Mereka bekerja di
pabrik pengolahan limbah menjadi panci aluminium, di suatu lokasi di Kampung
Bayur Opak, Sepatan Timur, Tangerang, Banten, tanpa memiliki pilihan. Perbuatan
melanggar hak asasi manusia (HAM) itu dilakukan oleh Yuki Irawan, pemilik
pabrik pengolahan limbah menjadi panci aluminium, yang diduga berkomplot dengan
beberapa preman dan oknum polisi dalam menyekap dan memaksa para buruh bekerja
secara paksa. Buruh tidak hanya dipaksa bekerja tanpa gaji, tetapi juga
dianiaya. Bahkan tidak diperkenankan bersosialisasi, diperlakukan layaknya
binatang.
Pabrik
China Perbudak Orang Cacat Mental
Kompas,
Selasa, 14 Desember 2010BEIJING, KOMPAS.com - Pihak berwenang China menutup
sebuah pabrik di baratnegara karena diduga telah memperbudak 11 orang pekerja,
kebanyakan cacat mental,selama bertahun-tahun dalam kondisi yang sangat
menyedihkan, lapor media pemerintah Selasa (14/12).Kasus tersebut, yang
merupakan contoh terbaru penyalahgunaan tenaga kerja di negarayang luas itu,
muncul tiga tahun setelah kasus skandal perbudakan besar yangmelibatkan ribuan
pekerja yang ditemukan dipaksa bekerja di tempat pembakaran batu- bata.
Ke-11
orang itu bekerja di sebuah pabrik bahan bangunan di Xinjiang barat dengan
jamkerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan
yanglayak untuk anjing, lapor Beijing
News . Mereka bekerja di sebuah pabrik bernamaJiaersi Green Construction
Material Chemical Factory dan tak satu pun dari merekayang dibayar, kata
laporan itu. Beberapa dari mereka telah bekerja selama empat tahun
Hal
tersebut jelas melanggar hak asasi manusia yang serius serta melanggar norma
dan hukum .
Baskoro,
K. (2014). KONFLIK INDUSTRI DALAM HUBUNGAN BURUH DAN
PENGUSAHA. Jurnal
Ilmiah. Universitas Brawijaya.
Aninditasari,
P. (2010). HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KONFLIK
PERAN DENGAN SEMANGAT
KERJA KARYAWAN DIVISI TEKNIK PT. INDONESIA
POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN
MRICA BANJARNEGARA. Jurnal Ilmiah. Universitas Diponegoro.
Jumat, 07 November 2014
Nama : Khusnul Khotimah
Kelas : 3pa11 (14512099)
Tugas : Softskill 2 (Psikologi Manajemen)
A. Teori Motivasi
Menurut
McClelland (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) motivasi sendiri merupakan
istilah yang lebih umum, yaitu suatu istilah yang dipergunakan untuk
keseluruhan fenomena yang melibatkan tingkah laku individu sebagai hasil suatu
rangsang situasi atau motif .
Teori
yang dikembangkan oleh McClelland (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) menjelaskan
tentang kebutuhan-kebutuhan individu atau ada yang menyebutnya dengan motif
motif yang menjadi dasar perilaku, yaitu motif untuk berprestasi, motif untuk
berkuasa dan motif untuk berafiliasi.
a. Motif untuk berprestasi (n-Ach)
Motif yang mendorong seseorang untuk mencapai
keberhasilan dalam bersaing dengan suatu ukuran keunggulan, baik berasal dari
standar prestasinya di waktu lalu maupun prestasi orang lain. Mereka yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi lebih menyukai pekerjaan yang memiliki tanggung
jawab pribadi, memperoleh umpan balik dan beresiko sedang. Mereka tidak menyukai
keberhasilan yang didapatkan secara kebetulan. Tujuan yang ditetapkan oleh
mereka juga merupakan tujuan yang tidak terlalu sulit dicapai dan juga tidak
terlalu mudah.
b.
Motif
untuk berkuasa (n-pow)
Motif yang mendorong seseorang mengambil kendali
untuk menguasai atau mempengaruhi orang lain. Orang yang memiliki kebutuhan ini
cenderung bertingkah laku otoriter. Dalam memberikan bantuan kepada orang lain,
mereka tidak memberikannya secara tulus, keinginan dasarnya adalah agarorang
lain menjadi menghormatinya.Pemberian bantuan digunakan untuk menunjukkan
kelebihan diri mereka. Ciri-ciri orang yang memiliki motif berkuasa tinggi antara
lain adalah suka terhadap perubahan status, senang mempengaruhi orang lain,
cenderung membantu tanpa diminta, dan terlibat dalam kegiatan sosial yang
melambangkan prestise.
c.
Motif
untuk berafiliasi (n-aff)
Motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain. Yang menjadi tujuan di sini adalah suasana yang
penuh dengan keakraban dan keharmonisan. Dengan motif berafiliasi, orang
terdorong untuk membentuk, menjaga, atau memperbaiki hubungan baik atau persahabatan
dengan orang lain. Mereka lebih menyukai situasi yang kooperatif daripada
situasi yang kompetitif dan mereka akan berusaha untuk menghindari konflik.
Ciri-ciri mereka dengan motif afiliasi yang tinggi adalah senang berada dalam
suasana hubungan yang akrab dengan orang lain, risau bila harus berpisah dengan
orang yang sudah kenal baik, dan dalam bekerja melihat dengan siapa mereka
bekerja.
McClelland
(dalam Maryanti & Meinawati, 2007) juga mengemukakan bahwa karyawan
mempunyai cadangan energi potensial. Bagaimana energi tersebut dilepaskan dan
digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi,
serta peluang yang tersedia. Energi ini akan dimanfaatkan oleh karyawan karena
oleh kekuatan motif dan kebutuhan dasar yang terlibat, harapan keberhasilan,
nilai insentif yang terlekat pada tujuan. Menurut McClelland, Atkinson, Clark,
& Lowell (dalam Maryanti & Meinawati,2007) , motivasi berprestasi
merupakan tujuan dari individu agar berhasil dalam persaingan dengan standar
tinggi. Individu mungkin akan gagal mencapai tujuan ini, tetapi memungkinkan
individu tersebut untuk mengidentifikasikan tujuan yang akan dicapai.
McClelland mengemukakan bahwa
motivasi berprestasi berkaitan dengan hasrat atau keinginan individu untuk
melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, bukanlah untuk memperoleh
penghargaan sosial atau prestasi melainkan untuk mencapai kepuasan batin dalam
dirinya. McClelland juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki motivasi yang
tinggi akan lebih memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan
kinerja dan belajar lebih baik. McClelland (dalam Maryanti & Meinawati, 2007)
memberikan batasan terhadap motivasi berprestasi sebagai motif untuk mencapai
suatu standar pencapaian atau keahlian. Berdasarkan penelitiannya, McClelland
berpendapat bahwa untuk menemukan motivasi yang mendasari suatu tingkah laku, cara
yang terbaik adalah dengan menganalisa motif yang ada dalam fantasi seseorang
karena motivasi tidak dapat dilihat begitu saja dari tingkah laku. Selanjutnya
McClelland berpendapat bahwa motivasi berprestasi dapat ditingkatkan dengan
jalan latihan-latihan. Jadi motivasi berprestasi ini dapat dikembangkan pada
segala tingkatan umur
Adapun karakteristik individu
dengan moti-vasi tinggi atau rendah sebagaimana telah dikemukakan oleh
Mc.Clelland dan Winter (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) ada 6 faktor yang
membedakan tingkat motivasi tinggi atau rendahnya seseorang, yaitu:
a. Tanggung Jawab
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi merasa
bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya dan tidak akan meninggalkan
tugas tersebut sebelum berhasil menyelesaikannya. Sedangkan individu yang
memiliki motivasi berprestasi rendah kurang merasa bertanggung jawab akan tugas
yang dikerjakannnya dan cenderung menyalahkan hal-hal di luar dirinya.
b. Resiko Pemilihan Tugas
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan
memilih tugas yang memiliki taraf kesulitan sedang. Walaupun tugas tersebut
sulit baginya, tetapi orang tersebut akan tetap berusaha menyelesaikan tugas
tersebut, dan berani menanggung resiko bila mengalami kegagalan. Sedangkan
individu yang memiliki motivasi rendah akan memilih tugas yang sangat mudah, ia
yakin akan berhasil dalam mengerjakannya dan apabila mengalami kegagalan ia
akan menyalahkan tugas tersebut.
a. Waktu Penyelesaian Tugas
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan brusaha
menyelesaikan setiap tugasnya dengan waktu secepat mungkin, sedangkan individu dengan
motivasi berprestasi rendah kurang berusaha dalam menyelesaikan tugas tersebut
dalam waktu yang cepat dan cenderung menunda-nunda waktu penyelesaian.
b.
Umpan
Balik
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menyukai
umpan balik yang diberikan orang lain atas pekerjaan yang telah dilakukannya.
Dengan umpan balik atas keberhasilan akan membuat individu memahami efektivitasnya
dan akan terdorong untuk meningkatkannya. Sedangkan umpan atas kegagalan akan
membuat motivasi untuk memperbaikinya. Individu bermotivasi prestasi rendah
kurang menyukai umpan balik karena umpan balik dianggapnya kesalahan yang ia
lakukan dan ia akan gagal serta usahanya akan menjadi sia-sia.
a.
Keinginan Menjadi yang Terbaik
Individu dengan motivasi berprestasi tinggi selalu berusaha
menunjukkan hasil kerja, mungkin dengan tujuan meraih predikat yang terbaik.
Sedangkan individu dengan motivasi berprestasi rendah menjadi yang terbaik
bukanlah prioritas utama sehingga mereka kurang berusaha secara maksimal.
b.
Kreatif dan Inovatif
Individu yang memiliki motivasi berprestasi berprestasi
tinggi cenderung kreatif dan kurang menyukai pekerjaan yang selalu rutin
dikerjakan, sedangkan individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah akan
memilih tugas yang sudah berstruktur sehingga ia tidak perlu lagi menentukan
sendiri bagaimana cara mengerjakannya.
Teori motivasi dua faktor atau
Herzberg's Two Factors Motivation Theory menyatakan tiga hal penting yang harus
diperhatikan dalam memotivasi bawahan (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) yaitu
:
1. Hal-hal yang mendorong
karyawan adalah pekerjaan yang menantang mencakup perasaan untuk berprestasi,
bertanggung jawab, kemajuan dapat menikmati pekerjaan itu sendiri, dan adanya
pengakuan atas pekerjaannya itu.
2. Hal-hal yang mengecewakan
karyawan adalah terutama faktor yang bersifat embel-embel saja pada pekerjaan,
peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat, jabatan, hak, gaji, tunjangan, dll.
3. Karyawan kecewa jika peluang
untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya
serta mulai mencari-cari kesalahan.
Herzberg juga mengatakan bahwa
orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi dua faktor yang merupakan
kebutuhan (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) yaitu :
a.
Maintenance Factor (Hygiene factor)
Adalah
faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin
memperoleh ketentraman badaniah. Faktor-faktor ini meliputi gaji, kondisi kerja
fisik, kepastian pekerjaan, supervisi yang menyenangkan, tunjangan, dll.
Hilangnya faktor-faktor ini akan menyebabkan timbulnya ketidakpuasan dan
absennya karyawan, bahkan dapat menyebabkan banyak karyawan yang keluar.
b.
Motivation Factor (Satisfier factor)
Adalah
faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan
sempurna dalam melakukan pekerjaan. Faktor motivasi ini berhubungan dengan
penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan,
seperti fasilitas yang memadai, penempatan yang tepat, dll. Jika kondisi ini
tidak ada, maka tidak akan menimbulkan rasa ketidakpuasan yang berlebihan.
Serangkaian faktor ini meliputi prestasi (achievement), pengakuan (recognition),
pekerjaan itu sendiri (the work it self), tanggung jawab (responsibility),
kemajuan (advancement), dan pengembangan potensi individu (the possibility of
growth). Rangkaian ini melukiskan hubungan seseorang dengan apa yang dikerjakannya
yakni kandungan pekerjaan pada tugasnya.
Menurut
Herzberg cara terbaik untuk memotivasi karyawan adalah dengan memasukkan unsur
tantangan dan kesempatan guna mencapai keberhasilan dalam pekerjaan mereka. Penerapannya
dengan pengayaan pekerjaan (job enrichment), yaitu suatu teknik untuk
memotivasi yang melibatkan upaya pembentukan kelompok-kelompok kerja natural,
pengkombinasian tugas-tugas, & pembinaan hubungan dengan klien. Pengayaan
pekerjaan ini merupakan upaya motivator seperti kesempatan untuk berhasil dalam
pekerjaan dengan membuat pekerjaan lebih menarik dan lebih menantang.
Maslow (dalam
Maryanti & Meinawati,2007) Menyatakan bahwa motivasi manusia bergantung pada
pemenuhan susunan hierarkis kebutuhan. Kebutuhan itu menentukan cara bagaimana
orang bertingkah laku dan motivasi diri mereka sendiri. Kebutuhan yang lebih
rendah harus dipenuhi sebelum bergerak ke arah kebutuhan yang lebih tinggi.
Ketika masing-masing kebutuhan dipenuhi, kebutuhan selanjutnya dalam hierarki
itu segera timbul. Maslow mencatat lima kategori utama yang dimulai dari
kebutuhan tingkat terendah.
Kebutuhan
dasar adalah memenuhi dorongan-dorongan biologis, tingkat kedua mengembangkan
kebutuhan untuk bebas dari ancaman fisik dan psikologis. Tingkat ketiga menampung
kebutuhan-kebutuhan dicintai dan diterima oleh orang lain. Secara berurutan, ketiga
tingkatan yang pertama termasuk kelompok A dan dipandang sebagai kebutuhan akan
ketenangan. Maslow percaya bahwa jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak dipenuhi,
maka seseorang akan gagal berkembang menjadi orang yang sehat baik secara
jasmani maupun rohani. Kelompok B merupakan dua tingkatan yang terakhir, yaitu
penghargaan dan realisasi yang dikenal sebagai kebutuhan pertumbuhan. Kebutuhan
ini harus dipenuhi jika seseorang ingin menumbuhkan dan mengembangkan potensi
mereka sepenuhnya.
Hierarki kebutuhan manusia menurut
Maslow
a)
Kebutuhan Fisiologi (Dasar) Rasa lapar Haus
Mengantuk Sex
b)
Kebutuhan Keamanan (Emosional dan Fisik)
Keamanan Perlindungan Kehangatan
c) Kebutuhan Sosial (Persamaan Kelompok)
Kelompok-kelompok pribadi Kegiatan-kegiatan sosial Pengakuan dari pihak lain
Cinta
d) Penghargaan (Diri dan Orang Lain) Kepercayaan
diri Prestasi Perhatian Penghargaan Penghormatan
e) Realisasi Diri (Pemenuhan, Kedewasaan, Kearifan)
Pertumbuhan Pengembangan pribadi Penyempurnaan
Teori harapan (Expectancy) dikemukakan oleh
Victor Vroom (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) yang menyatakanbahwa kekuatan
yang memotivasi seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjakan pekerjaannya
tergantung dari hubungan timbal balik antara apa yang ia inginkan dan butuhkan
dari hasil pekerjaan itu. Berapa besar ia yakin perusahaannya akan memberikan
pemuasan bagi keinginannya sebagai imbalan atas usaha yang dilakukannya itu.
Bila keyakinan yang diharapkan cukup besar untuk memperoleh kepuasannya maka ia
akan bekerja keras pula. dan sebaliknya
Menurut
Vroom (dalam Maryanti & Meinawati, 2007) faktor dalam memunculkan motivasi
kerja individu adalah atasan, isi pekerjaan, gaji, dan kesempatan untuk maju.
Faktor atasan adalah bagaimana hubungan yang terjalin dengan atasan berlangsung
baik dan mengakui otoritas atasan. Isi pekerjaan adalah bagaimana pekerja
mengetahui isi dari uraian pekerjaan yang dikerjakannya dan mengetahui fungsi
bagian kerjanya dalam proses rangkaian kerja keseluruhan. Kemudian gaji adalah
kesesuaian
antara
upah yang diterima dengan pekerjaan atau tugas yang dikerjakannya. Perbandingan
upah dengan karyawan lain pada perusahaan berbeda-beda. Faktor terakhir adalah kesempatan untuk maju,
sejauh mana peluang karir yang tersedia bagi dirinya di perusahaan tersebut
meliputi perbandingan kesempatan karir dengan rekan kerja lain dan perbandingan
peluang kerja di perusahaan lain.
B. Pola Kepemimpinan
Gaya
kepemimpinan otokratis merupakan
pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri yang selalu menganggap organisasi
sebagai milik pribadi, mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi,
menganggap bawahan sebagai alat semata, tidak mau menerima kritik dan saran,
terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya, dalam tindakan pergerakannya
sering mempergunakan pendekatan paksaan dan bersifat menghukum biasanya gaya
kepemimpinan seperti ini digunkan saat situasi mengawasi karyawan yang kurang
disiplin saat bekerja , situasi perusahaan yang kurang kondusif dan saat memperingati
karyawan yang kurang bertanggung jawab. Sugandi (Tumbol,Tewal,Sepang, 2014)
Gaya
Kepemimpinan Demokratik yaitu gaya kepemimpinan yang memiliki
karakteristik sebagai berikut, dalam proses pergerakan bawahan selalu bertitik
tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;
selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dalam
kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran,
pendapat bahkan kritik dari bawahan; selalu berusaha menjadikan bawahannya
sukses dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadi sebagai pemimpin ,
biasanya gaya kepemimpinan seperti ini digunakan perusahaan saat situasi rapat
agar karyawan dapat mengeksplor pemikirannya dan ide kreatifnya Sugandi (Tumbol,Tewal,Sepang, 2014)
Gaya
Kepemimpinan Permisif / Laissez
Faire Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Gaya ini membiarkan segala
sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan
saja. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau
yang hanya bertugas sementara.yaitu gaya kepemimpinan yang lebih mengutamakan
relation oriented (Orientasi hubungan) dari pada result oriented (Penyelesaian
tugas). Gaya kepemimpinan seperti ini biasanya digunakan saat situasi pemimpin sering
pergi ke luar kota dan tidak bisa menghandle atau mengawasi keadaan kantor
secara langsung.
Referensi
:
Tumbol,L.C.,Tewal,B.,Sepang,L.J.(2014).Gaya
kepemimpinan otokratis,demkratik dan Laissez faire
terhadap peningkatan prestasi kerja karyawan pada kpp pratama manado. Jurnal EMBA,
vol.2.no.1.38-47.
terhadap peningkatan prestasi kerja karyawan pada kpp pratama manado. Jurnal EMBA,
vol.2.no.1.38-47.
Maryanti,S.,Meinawati,R..(2007).Peran
motivasi berprestasi terhadap prestasi kerjapada agen yang
bekerja dikantor operasional pondok gede dan kalimalang ajb bumiputera 1912 cabang
jakarta timur. Jurnal psikologi,vol.5.no.1.
bekerja dikantor operasional pondok gede dan kalimalang ajb bumiputera 1912 cabang
jakarta timur. Jurnal psikologi,vol.5.no.1.
Langganan:
Postingan
(Atom)



